Oleh: Ayahdidien – Reporter KABEREHNEWS
Kita semua pernah membayangkan ujung dunia. Tempat di mana tanah habis, laut dimulai, dan semua cerita selesai.
Saya pikir, setiap manusia butuh sekali dalam hidupnya berdiri di sebuah ujung dunia. Bukan untuk mengakhiri, tapi untuk memulai kembali.
Ada tiga ujung dunia yang saya catat.
Pertama, Ujung Dunia yang Dicetak di Peta.
Di ujung paling selatan bumi ada Ushuaia. Kota kecil di Argentina yang bangga menyebut dirinya _Fin del Mundo_. Di pelabuhannya ada kereta api tua bernama Tren del Fin del Mundo. Turis datang, berfoto di depan papan kayu, lalu pulang dengan rasa sudah pernah sampai di batas.
Di ujung utara ada Nordkapp. Tebing hitam di Norwegia yang menghadap langsung ke Kutub Utara. Orang Viking dulu percaya di sanalah para dewa melempar kapal-kapal yang sombong.
Dan di ujung Indonesia, kita punya ujung dunia kita sendiri: Pulau Rondo. Titik Nol. 0 kilometer Indonesia. Dari Sabang, Aceh. Di sana tidak ada papan _Fin del Mundo_, hanya Tugu Garuda dan mercusuar tua yang dijaga marinir. Jika kamu berdiri di sana saat maghrib, yang kamu lihat hanya samudra biru tanpa batas sampai ke India. Anginnya kencang, sepi, dan kamu akan sadar betapa kecilnya kita.
Kedua, Ujung Dunia yang Diceritakan Kitab.
Dalam Al-Qur'an ada kisah Dzulqarnain yang berjalan sampai tempat matahari terbenam, terlihat seolah tenggelam di lumpur hitam. Para mufasir bilang, itu bukan soal astronomi, itu soal sudut pandang manusia. Ujung dunia adalah tempat di mana cahaya terakhir yang kamu lihat, seolah menghilang.
Ada juga Majma' al-Bahrain, pertemuan dua lautan, tempat Musa bertemu Khidir. Sains menyebutnya estuary, tempat air tawar dan air asin bertemu tapi tidak mau menyatu. Itulah ujung dunia yang paling jujur: dua hal yang berbeda bisa bertemu tanpa harus saling menghilangkan.
Ketiga, dan ini yang paling penting, Ujung Dunia di Hati Manusia.
Seorang teman nelayan saya di Pusong, Lhokseumawe, pernah berkata: "Ujung dunia itu bukan pulau. Ujung dunia itu ketika mesin boat mati jam 2 pagi, minyak habis, dan lampu Pulau Rondo pun tak nampak. Hanya ada langit dan doa."
Ujung dunia Nenek Miah (73) di Medan Belawan adalah ketika KTP-nya dipakai orang untuk beli mobil dan pasang listrik 10 rumah, hingga negara mencatatnya sebagai orang kaya dan mencabut bansosnya. Padahal rumahnya nyaris ambruk.
Ujung dunia seorang ibu adalah ketika ia sudah meminjam ke semua tetangga dan anaknya masih lapar.
Ujung dunia seorang wartawan adalah ketika kebenaran sudah ia tulis, tapi tak ada yang mau membaca.
Maka saya sampai pada kesimpulan:
Ujung dunia bukanlah tempat untuk mati. Ujung dunia adalah tempat untuk kembali ingat, bahwa kita masih punya rumah.
Selama di rumah masih ada yang menunggu, menyalakan lampu, dan menanyakan "sudah makan?", maka kita belum pernah benar-benar sampai di ujung dunia.
Ujung dunia yang sejati adalah ketika kita kehilangan arah pulang.
Dan Aceh, dengan Pulau Rondo-nya, mengajarkan kita satu hal: Indonesia itu dimulai dari ujung. Dari batas yang paling jauh, dari tempat yang paling sepi, dari doa penjaga mercusuar yang tak pernah didengar siapa-siapa.
Mungkin, untuk menemukan Indonesia, kita memang harus berangkat dari ujungnya dulu.
By Ayahdidien, dari sudut sepi pelataran terminal IDI RAYEUK
Posting Komentar