Kritik Muncul ke “Tim Pelurus” Ucapan Presiden Prabowo: Dinilai Justru Melemahkan

Foto Ilustrasi: Tim Poles Citra Presiden. (Foto: Kempalan.com)


"Penulis Rosadi Jamani menyebut kelompok yang kerap meluruskan pernyataan Presiden membuat publik bingung dan menimbulkan kesan presiden tidak bisa menjelaskan sendiri"

JAKARTA, KABEREHNEWS.COMFenomena kelompok yang kerap meluruskan dan menjelaskan ulang pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan. Kelompok itu oleh sebagian pihak dijuluki “tukang cebok” karena dinilai selalu hadir setiap kali muncul pernyataan presiden yang memicu polemik.

Kritik terhadap kelompok tersebut disampaikan penulis Rosadi Jamani, Ketua Satu Pena Kalimantan Barat, dalam tulisannya yang beredar di media sosial. Menurut Rosadi, alih-alih membela, tindakan “meluruskan” secara berlebihan justru menimbulkan kesan bahwa Presiden tidak mampu menjelaskan ucapannya sendiri.

“Kalau setiap selesai Presiden berbicara selalu ada orang yang berkata, ‘Maksud beliau bukan begitu,’ maka publik lama-lama bertanya, ‘Kalau begitu, kenapa bukan beliau sendiri yang menjelaskan?’” tulis Rosadi.

Contoh Pernyataan yang Diluruskan

Dalam tulisannya, Rosadi menyebut sejumlah contoh pernyataan Presiden Prabowo yang kemudian diikuti penjelasan dari para pendukungnya.

Pertama, saat Presiden menyebut penggilingan padi bisa untung Rp2 triliun per bulan. Alih-alih mengklarifikasi sumber data, para pendukung disebut mengalihkan dengan tafsir lain seperti “mungkin maksudnya omzet” atau “akumulasi seluruh usaha”.

Kedua, penggunaan istilah “Londo Ireng” oleh Presiden untuk menyebut para kritikus. Kelompok pelurus disebut menjelaskan bahwa istilah itu bukan penghinaan, melainkan kritik terhadap “mental kolonial” dan bentuk nasionalisme.

Ketiga, pernyataan Presiden bahwa pelemahan rupiah tidak masalah karena warga desa tidak menggunakan rupiah. Penjelasan yang muncul kemudian menyebut itu sebagai “kiasan” dan “pesan tentang kemandirian ekonomi rakyat”.

“Presiden bicara sederhana, mereka bikin rumit. Presiden bicara kontroversial, mereka bikin heroik. Presiden salah angka, mereka cari tafsir. Presiden salah istilah, mereka cari konteks,” ujar Rosadi.

Dinilai Menciptakan “Bayangan Presiden”

Rosadi menilai pekerjaan kelompok tersebut secara sederhana adalah menjaga citra Presiden agar tetap positif. Jika ada pernyataan yang dianggap menimbulkan masalah, maka akan dicari penjelasan, konteks, atau pihak lain yang disalahkan.

Ia menegaskan Presiden Republik Indonesia bukan pejabat setingkat ketua grup WhatsApp. Karena itu, setiap ucapan presiden seharusnya sudah melalui persiapan matang dengan masukan dari tim ahli, intelijen, ekonom, dan komunikator.

“Kalau setiap pernyataan membutuhkan penerjemah, apa gunanya pidato? Kalau setiap angka membutuhkan tukang poles, apa gunanya data? Kalau setiap kontroversi membutuhkan pasukan pembela, kapan rakyat boleh mendengar ucapan Presiden apa adanya?” katanya.

Rosadi bahkan mengusulkan agar kelompok tersebut diberi “seragam resmi” dengan tulisan Tim Poles Citra Presiden, lengkap dengan ember dan kain lap sebagai simbol.

“Jangan-jangan yang sedang mereka bela bukan Presiden. Mereka sedang membela bayangan Presiden yang mereka ciptakan sendiri,” tulisnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Istana Kepresidenan terkait kritik tersebut.

---

Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan opini tertulis Rosadi Jamani, Ketua Satu Pena Kalbar, yang beredar pada pekan ini. Isi merupakan pandangan penulis dan telah disunting ke dalam format berita dengan kaidah 5W+1H, gaya piramida terbalik, dan bahasa netral.


Editor: Ayahdidien 

0/Post a Comment/Comments