Pengamat ingatkan, jabatan adalah amanah publik. Bukan panggung untuk pedagang loyalitas
JAKARTA, KABEREH NEWS - Setiap kali seorang pemimpin dilantik, skenario yang sama hampir selalu terulang. Telepon tidak berhenti berdering. Pesan WhatsApp membanjir. Karangan bunga memenuhi halaman kantor. Spanduk ucapan selamat terpasang di sudut kota.
Di hari itu, seorang pejabat merasa paling dihormati. Padahal, sejarah menunjukkan tidak semua yang datang membawa ketulusan.
Sebagian datang karena persahabatan. Sebagian lagi karena harapan. Tidak sedikit pula yang datang karena kepentingan.
Inilah awal dari ironi yang kerap menyertai lahirnya kekuasaan. Semakin tinggi jabatan, semakin ramai orang di sekelilingnya. Namun keramaian itu belum tentu berarti banyaknya orang yang benar-benar ikhlas.
Dari Pengabdian ke Investasi Sosial
Dalam kacamata sosiologi, tidak semua tindakan manusia digerakkan oleh nilai moral. Sosiolog Max Weber menyebutnya sebagai rasionalitas instrumental, yaitu tindakan yang didasarkan pada perhitungan untung dan rugi.
Ketika logika itu masuk ke ruang kekuasaan, kedekatan dengan pemimpin berubah menjadi investasi sosial. Relasi tidak lagi dibangun atas dasar pengabdian, melainkan sebagai jalan untuk mendapat akses, pengaruh, jabatan, proyek, atau keuntungan lain.
Kondisi ini melahirkan kelompok yang disebut sebagai “pedagang loyalitas”. Mereka menjadikan kesetiaan sebagai komoditas.
Hari ini mereka menjual loyalitas kepada pemimpin yang baru. Besok mereka menawarkan hal yang sama kepada penggantinya. Lusa mereka mengaku sejak awal berada di pihak pemenang.
Kesetiaan mereka tidak berpihak pada institusi, rakyat, atau nilai. Kesetiaan itu mengikuti perpindahan kursi kekuasaan.
Saat Kompetensi Kalah oleh Kedekatan
Fenomena ini bukan sekadar soal etika pribadi. Ini adalah soal budaya organisasi.
Ketika sistem meritokrasi melemah, ruang kosong akan diisi oleh patronase. Kompetensi dikalahkan oleh kedekatan. Integritas kalah bersaing dengan kemampuan menyenangkan hati atasan. Pegawai yang bekerja dalam diam tersingkir, sementara yang mahir membangun citra makin dekat ke pusat keputusan.
Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa kekuasaan sering dipertahankan melalui modal sosial dan kekuasaan simbolik. Pengaruh tidak selalu lahir dari kompetensi, tetapi juga dari kemampuan menguasai jaringan dan membangun kedekatan.
Dalam situasi seperti itu, pujian menjadi alat transaksi. Senyum menjadi strategi. Bahkan loyalitas pun bisa diperdagangkan.
Bahaya Groupthink di Lingkaran Kekuasaan
Inilah titik ketika seorang pemimpin memasuki ruang paling sunyi. Sunyi bukan karena tidak ada orang. Ruangan justru penuh. Tamu silih berganti. Tetapi suara jujur mulai hilang. Yang terdengar hanya gema pujian.
Dalam dunia organisasi, keadaan ini dikenal sebagai _groupthink_. Keberanian mengoreksi dikalahkan oleh keinginan menyenangkan pemimpin. Kritik dianggap ancaman. Perbedaan pendapat dipersepsikan sebagai ketidaksetiaan.
Padahal organisasi yang kehilangan kritik sedang kehilangan masa depannya.
Karena itu, pemimpin yang bijaksana tidak membutuhkan lebih banyak penjilat. Ia membutuhkan sahabat yang berani berkata, “Maaf, keputusan ini perlu dipertimbangkan kembali.”
Jabatan Adalah Amanah, Bukan Hadiah
Para ahli mengingatkan, jabatan pada hakikatnya bukan hadiah. Ia adalah amanah publik. Bukan milik keluarga, kelompok pendukung, apalagi pemburu rente.
Jabatan adalah titipan rakyat yang kelak harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan sejarah tetapi juga di hadapan Tuhan.
Ujian sesungguhnya datang setelah masa jabatan berakhir. Ketika papan nama telah diturunkan. Ketika ruang kerja sudah ditempati orang lain. Ketika telepon mulai sunyi. Ketika tidak ada lagi karangan bunga di halaman.
Di saat itulah akan terlihat siapa yang masih datang tanpa membawa kepentingan.
Sejarah juga tidak akan mencatat berapa banyak karangan bunga di depan kantor seorang pejabat. Yang akan dikenang adalah apakah kekuasaan itu melahirkan keadilan, menghadirkan kemaslahatan, memperkuat institusi, dan meninggalkan jejak pengabdian.
“Jangan mengejar jabatan hingga kehilangan kehormatan. Sebab jabatan hanyalah persinggahan, sedangkan kehormatan adalah tempat nama kita akan pulang,” demikian pesan penutup dari esai tersebut.
Penulis
Posting Komentar