Perang AS vs Iran Memanas, Dunia Waswas: Harga Minyak dan Pelayaran Global Terancam


JAKARTA, KABEREH NEWS –- Eskalasi konflik antara Amerika Serikat AS dan Iran memasuki fase paling serius. Kedua negara saling melancarkan operasi militer besar-besaran di kawasan Teluk pada Rabu, 8 Juli 2026, dan memicu kekhawatiran global terhadap keamanan jalur perdagangan energi dunia.

Komando Pusat Militer AS, CENTCOM, mengumumkan telah menyelesaikan serangan yang menyasar lebih dari 80 target yang diklaim terkait kepentingan militer Iran. Operasi itu disebut sebagai respons atas ancaman terhadap kepentingan AS di kawasan, termasuk serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz.

Tak butuh waktu lama, Iran membalas. Teheran mengklaim telah meluncurkan serangan ke sekitar 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. 

Media pemerintah Iran juga melaporkan ledakan terdengar di Pulau Qeshm dan Pulau Kharg. Kedua pulau itu merupakan titik strategis untuk aktivitas maritim dan ekspor energi Iran. 

Situasi semakin memanas setelah terjadi ledakan besar di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait. Bersamaan dengan itu, Bahrain mengaktifkan sirene peringatan di sejumlah wilayah.

Komando militer gabungan Iran menegaskan tidak akan tinggal diam. "Angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan respons yang akan memberikan dampak besar terhadap setiap bentuk serangan lanjutan," demikian pernyataan resmi militer Iran. 

Iran juga menegaskan menolak campur tangan asing terhadap pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi 20% minyak dunia.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai langkah AS telah melanggar kesepahaman yang pernah dibangun. Melalui media sosial ia menulis: “Era perundungan telah berakhir dan cara seperti itu tidak akan menghasilkan apa pun.”

Dampak ke Ekonomi Global Mulai Terasa 
Konflik ini langsung merembet ke sektor ekonomi. Departemen Keuangan AS melalui Office of Foreign Assets Control OFAC mencabut lisensi penjualan minyak Iran yang sebelumnya berlaku hingga 21 Agustus. Kebijakan itu diperkirakan menekan ekspor energi Iran sekaligus mengguncang dinamika pasar minyak global.

Pengamat hubungan internasional menilai Timur Tengah kini berada di titik paling rawan. Setiap aksi militer berpotensi memicu rantai respons yang dapat mengganggu stabilitas pelayaran internasional, rantai pasok energi, hingga memicu lonjakan harga minyak dunia.

"Apabila ketegangan terus meningkat tanpa jalur diplomasi efektif, risiko meluasnya konflik ke negara-negara sekitar Teluk semakin besar," kata seorang analis.

Kini perhatian komunitas internasional tertuju pada upaya deeskalasi. Dunia khawatir konfrontasi AS-Iran tidak berhenti di Teluk, melainkan berkembang menjadi konflik berskala lebih luas dengan dampak ke seluruh perekonomian global.(Ayahdidien)

0/Post a Comment/Comments