Gagal Juara dan Kehilangan Gaya, Argentina Dituding Rusak Irama Final Piala Dunia 2026


Dihadang Spanyol 1-0 di extra time, Albiceleste tanpa satu tembakan selama 90 menit dan diwarnai 4 kartu kuning

EAST RUTHERFORD, KABEREH NEWS Final Piala Dunia 2026 berakhir pahit bagi Argentina. Selain kehilangan gelar juara setelah dikalahkan Spanyol 1-0, Albiceleste juga menuai sorotan karena gaya bermain yang dinilai jauh dari sepak bola.

Laga yang berlangsung Minggu (19/7/2026) itu memperlihatkan kontras tajam. Spanyol tampil dominan dengan 852 operan. Sementara Argentina hanya mencatatkan 464 operan dan baru melepaskan tembakan pertama pada menit ke-117 lewat Lionel Messi.

Tertekan Sejak Menit Awal
Sejak babak pertama, Argentina tampak lebih sibuk memutus ritme permainan Spanyol dibanding membangun serangan. 

Leandro Paredes dan Enzo Fernandez menjadi dua nama yang paling sering terlibat duel keras di tengah lapangan. Alhasil, empat pemain Argentina diganjar kartu kuning oleh wasit.

Di bawah tekanan, kiper Emiliano Martinez tampil luar biasa. Ia membuat 11 penyelamatan sepanjang laga — jumlah terbanyak yang pernah dicatat kiper di final Piala Dunia.

Namun kokohnya Martinez tak cukup. Spanyol akhirnya memecah kebuntuan lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu.

Catatan Buruk Sang Juara Bertahan
Kekalahan ini meninggalkan catatan yang tidak sedap bagi Argentina. Mereka menjadi tim pertama dalam sejarah final Piala Dunia yang tidak melepaskan satu tembakan pun selama 90 menit waktu normal.

Minimnya upaya menyerang membuat Argentina kesulitan mengembangkan permainan. Alih-alih menekan, mereka justru terlihat bertahan dan menunggu.

Situasi makin panas setelah peluit panjang. Aksi adu argumen dan keributan kecil mewarnai akhir laga, menambah daftar panjang kritik terhadap sportivitas Albiceleste di turnamen ini.

Spanyol Tunjukkan Dominasi Sejati
Berbeda dengan Inggris di semifinal yang terlihat kelelahan di babak kedua, Spanyol justru semakin kuat. Penguasaan bola, pergerakan tanpa bola, dan ketenangan La Furia Roja membuat Argentina tak berkutik.

Kekalahan ini menutup era Argentina sebagai juara bertahan dengan cara yang jauh dari harapan. Trofi lepas, dan citra permainan indah yang dulu melekat pada mereka juga ikut luntur di partai puncak.

Bagi banyak pengamat, final ini menjadi pengingat: di level tertinggi, sepak bola tetap menuntut keberanian menyerang, bukan hanya strategi merusak irama lawan.(Red/Sam)

0/Post a Comment/Comments