Bahasa Aceh Terancam Punah, Padahal Ini Warisan Paling Mahal

Oleh : Regita KS, Pemerhati Budaya dan Pendidikan

OPINI | KABEREH NEWS -- Bahasa Aceh bukan sekadar kata. Ia adalah memori, adab, dan identitas. Di dalamnya ada sejarah perang, syair, doa, dan nasihat nenek yang dulu kita dengar di meunasah. Tapi hari ini, warisan itu sedang terancam. Bukan karena dilarang. Tapi karena anak-anaknya sendiri mulai malu mengucapkannya.

1. Generasi Z: Fasih Scrolling, Gagap Bahasa Sendiri
Coba dengarkan obrolan remaja Aceh di kafe atau di kolom komentar TikTok. Bahasa Indonesia campur Inggris lebih dominan. Bahasa Aceh? Kadang muncul, tapi sebatas “jih”, “gop”, atau makian. 

Padahal menurut Fishman 1991, bahasa daerah bertahan kalau ada transmisi antargenerasi. Kalau anak sudah tak lagi bicara dengan bahasanya, bahasa itu sedang berjalan menuju punah. Ironisnya, ketika seseorang bicara Bahasa Aceh santun sesuai adat, ia malah dianggap “kuno”. Sebaliknya, umpatan kasar dianggap lebih “gaul”. Di sinilah krisisnya: nilai kesantunan dan keislaman yang dulu melekat di bahasa, mulai hilang dari ruang pergaulan.

Vygotsky bilang, bahasa membentuk pikir dan identitas. Kalau Generasi Z kehilangan Bahasa Aceh, mereka juga kehilangan bagian dari jati dirinya. Mereka bisa jadi pintar, tapi tanpa akar.

2. Sekolah Ajar, Tapi Tak Dihidupkan
Masalahnya bukan cuma di rumah. Di sekolah, Bahasa Aceh sering diposisikan sebagai “pelajaran tambahan”. Tidak semua sekolah punya program berkelanjutan dari SD sampai SMA. Anak-anak pun menganggapnya pelajaran tanpa nilai jual. “Buat apa? Nggak ada di CPNS, nggak ada di UTBK,” begitu pikir mereka.

Padahal menurut Lickona, pendidikan itu bukan cuma soal angka. Ia soal karakter. Bahasa daerah adalah instrumen paling jujur untuk menanamkan penghormatan, solidaritas, dan kearifan lokal. Kalau fondasi paling dasar ini rapuh, bagaimana kita berharap generasi muda menjaga adat yang lebih kompleks?

3. Solusinya Bukan Ceramah, Tapi Konten
Generasi Z bukan anti budaya. Mereka anti membosankan. Mereka lahir di era visual, cepat, dan interaktif. Jadi wajar kalau ceramah pelestarian bahasa kalah saing dengan video 15 detik.

Rogers lewat Teori Difusi Inovasi bilang: inovasi diterima kalau sesuai kebutuhan sasaran. Artinya, Bahasa Aceh harus masuk ke TikTok, Reels, YouTube, podcast, komik webtoon, game. Jangan hanya di buku LKS.

Bayangkan kalau ada konten creator Aceh yang bikin sketsa lucu pakai Bahasa Aceh halus, atau podcast sejarah Aceh pakai bahasa santai, atau komik digital tentang Hikayat Prang Sabi. Bahasa jadi hidup, bukan museum.

4. Branding Pelajar Aceh: Modern tapi Berakar
Montoya & Vandehey menyebut personal branding itu soal citra autentik. Pelajar Aceh bisa membangun branding unik: “modern, kreatif, religius, tapi tetap meu bahsa Aceh”. 

Mereka tidak hanya jadi konsumen TikTok. Mereka jadi produsen budaya. Bikin konten bahasa Aceh, cerita rakyat, adat, kuliner. Dari situ lahir ekonomi kreatif. Dari situ lahir kebanggaan baru: bangga jadi orang Aceh bukan karena nama, tapi karena karya.

Penutup: Selamatkan Bahasa, Selamatkan Kita
Bahasa Aceh tidak akan mati karena tidak ada yang mengajar. Ia akan mati kalau tidak ada yang mau memakainya. Tugas kita bukan memaksa, tapi membuat generasi muda merasa keren berbahasa Aceh.

Ini kerja kolektif. Pemerintah perkuat kurikulum dan infrastruktur digital di sekolah. Komunitas budaya lahirkan konten kreatif. Guru jadikan kelas lebih hidup. Dan kita semua, mulai dari rumah: ajak adik bicara meu bahsa Aceh, bukan cuma saat marah.

Karena kalau Bahasa Aceh hilang, yang hilang bukan hanya kosakata. Yang hilang adalah cara kita menyebut Tuhan, memanggil ibu, dan mencintai tanah ini.

"Bahasa Aceh harus hidup. Bukan di buku, tapi di lidah dan di feed Generasi Z."

0/Post a Comment/Comments