"Inovasi edukasi visual ini menyorot perilaku pengendara ibu-ibu, pakar: jangan stigma, tapi sasar akar masalahnya"
KABEREH NEWS | ACEH TIMUR - Judulnya sengaja provokatif: "Awas Ada Emak-Emak Sein Kiri Belok Kanan". Itu nama platform komik digital edukatif terbaru yang dikembangkan oleh Safrian Rahimi siswa SMA Negeri 1 Idi Rayeuk di akun Instagram nya https://www.instagram.com/p/DZwYpzCnwkL/?igsh=eDltMWJkemVyZzQy untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan Generasi Z. Namun publikasi judul itu memicu kritik: apakah menyudutkan "emak-emak" justru kontraproduktif?
WHO mencatat kecelakaan lalu lintas jadi penyebab utama kematian usia produktif global. Di Indonesia, trennya terus naik seiring mobilitas tinggi. Korbannya bukan cuma angka, tapi pilar ekonomi keluarga yang hilang, hingga guncangan stabilitas sosial.
Melihat itu, peneliti mengembangkan komik digital berbasis visual. Lewat skenario jalanan dinamis dan jenaka, komik ini menyasar kebiasaan pengendara Gen Z yang dinilai minim literasi keselamatan. Salah satu segmen visualnya menyorot fenomena "sein kiri belok kanan" yang kerap dikaitkan dengan pengendara perempuan paruh baya alias "emak-emak".
Sindiran atau edukasi?
Judul "Awas Ada Emak-Emak Sein Kiri Belok Kanan" memang sengaja dipakai untuk menarik perhatian. Tim pengembang berargumen: humor + visual lebih adaptif dan efektif dibanding imbauan kaku. Tujuannya bukan menghakimi, tapi membuat pesan keselamatan "nyantol" di kepala Gen Z yang tumbuh dengan meme dan komik.
Namun pakar komunikasi publikasi mengingatkan. Penyematan label "emak-emak" bisa melahirkan stigma gender di jalan raya. Padahal data Korlantas Polri menunjukkan penyebab utama kecelakaan adalah kecepatan, ugal-ugalan, dan tidak pakai helm — bukan jenis kelamin pengendara.
"Kalau mau edukasi, sasar perilakunya, bukan identitasnya. Stigma 'emak-emak' bisa menutup telinga audiens yang justru harus diedukasi," ujar pengamat transportasi, Jumat 19/6/2026.
Tantangan literasi jalanan
Terlepas dari kontroversi judul, kebutuhan media edukasi baru memang mendesak. Komik digital dinilai tepat: cepat diakses via HP, bahasa visual, dan cocok untuk Gen Z yang alergi teks panjang.
Pengembang berharap platform ini jadi solusi adaptif untuk meningkatkan literasi keselamatan jalan raya. Pesan utamanya sederhana: sein itu kode, bukan hiasan. Belok kanan, ya sein kanan.
Pertanyaannya: mampukah sindiran "emak-emak" diubah jadi cermin buat semua pengendara? Atau justru memecah? Itu PR besar tim riset ke depan.
Penulis: Saiful Amri (penulis jalanan tinggal di Idi Rayeuk Sagoe 05, Aceh Timur, Aceh)
Posting Komentar